Larangan malima

 Aja Nglakoni Ma Lima


Ajaran malima



Bagi generasi 60an mungkin masih ingat standar moral bagi orang Jawa yang selalu dipesankan para sesepuh, yakni, aja nglakoni ma lima.


Aja maling (jangan mencuri), aja madat (jangan mencandu -narkoba dan semacamnya), aja minum (jangan mabuk), aja main (jangan berjudi) dan aja madon (jangan berzina).


Istilah ma lima menjadi larangan melakukan kelima hal tersebut itu muncul setelah masyarakat Jawa terislamkan. Mampu hijrah seluruh masyarakat jawa yang sebelumnya menjalankan ritus malima bairawa thantra. Ma LiMa thantra itu jauh lebih tua merujuk ritus dalam tantra kiri.


Dalam buku Islam dan Kebatinan, pak Rasjidi menjabarkan ritus ma lima tersebut yang terdiri dari : matsiya (makan ikan gembung beracun), manuya (minum darah dan memakan daging gadis yang dijadikan korban), madya (minum minuman keras sampai mabuk), mutra (menari sampai ekstase) dan maithuna (ritual seks massal). mamsa (daging), matsa (ikan), madya (arak) maiathuna (seks) mudras (semadhi) yang diamalkan dalam lingkaran jamaah di ksetra (kuburan).

 Menurut KH. Agus Sunyoto, Bairawa Tantra mempunyai ritual yang disebut sebagai Panca Makara atau malima. Malima di sini bukan seperti yang kita kenal sekarang, namun malima menurut ajaran Bairawa Tantra adalah mamsa (daging), matsya (ikan), madya (arak), maithuna (seksual), dan mudra (semedi). Selanjutnya penganut Bairawa Tantra baik laki-laki maupun perempuan bertelanjang membuat lingkaran yang dikenal dengan istilah Ksetra.


Lebih mengerikan lagi jika tingkatan dari para penganut bairawa ini telah tinggi daging yang disediakan bukan lagi daging hewan namun daging manusia, ikannya ikan sura (hiu), sedang araknya diganti dengan darah manusia.

Merubah manusia jawa seutuhnya para pendakwah Islam dengan melakukan pendekatan masyarakat kemudian pendakwah ini disebut sebagai wali dalam rangka berdakwah dan mengajarkan Islam kepada masyarakat jawa. Tentu ritual Bairawa Tantra sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang melarang memakan binatang untuk persembahan, melarang hubungan seks bebas, dan melarang minum-minuman keras, apalagi sampai makan daging manusia dan meminum darahnya. Keadaan itu berubah dengan kesabaran para pendakwah Islam.


Perempuan adalah kekuasaan tertinggi kosmos yang mewakili sakti (kekuatan adikodrati) yang untuk mengalami penyatuan dengannya, ia harus menyatukan kelima unsur yang menjadi pusat ritus tantra.


Ritus ini, tulis JJ Rass dalam buku Masyarakat dan Kesusteraan Jawa, dilakukan pada malam hari, yang menurut beberapa kitab, dilaksanakan di kuburan atau lapangan mayat, maka ada istilah setra gandamayit. Setelah upacara pendahuluan berupa pembacaan, meditasi dan tindakan lain, para peserta laki-laki dan perempuan berkumpul melingkar dan pada puncaknya mereka melakukan coitus. Hukum-hukum normal, seperti coitus di luar suami istri selama upacara ini ditiadakan.


Sampai sekarang, jejak tantra kiri ini masih ada di tengah masyarakat kita, terutama dalam kesenian rakyat dan juga ritus pesugihan.


Banyak kesenian rakyat yang masih menyertakan fase mutra (menari sampai ekstase) yang dalam istilah rakyatnya, ndadi, sebagai puncak penampilannya. Makan beling, memecah kelapa dengan batok kepala sampai memakan ayam hidup-hidup. 


Kita tentu pernah mendengar tentang pesugihan gunung kemukus, terkenal dengan berbagai versi cerita.

 

Prosesi ritual pesugihannya (dahulu) sekarang wisata spiritual dan ada aturannya), beberapa versi, suami istri yang mau cari pesugihan datang ke tempat pesugihan, nanti disana bertemu suami istri lain yang tak dikenal dan bertukar pasangan persetubuhan. Ritual itu dilakukan selama tujuh purnama berturut-turut.


Awalnya, saya menganggap kisah ritual itu dilebih-lebihkan, jadi antara percaya dan tidak. Sampai suatu ketika, ketika saya diudang guru ngaji saya saat kuliah, mas Nurahman yang ngajar di Universitas Muhammadiyah Semarang, saya ketemu seorang dosen yang berasal dari daerah kemukus dan membenarkan kisah itu.


"Betul itu mas," kata beliau. 


"Dulu, waktu saya kecil," lanjut beliau, "Saya berempat, kalau bulan purnama selalu datang ke tempat pesugihan itu sambil bawa empat lembar kain jarik. Nah nanti, kita berempat disewa mereka yang nyari pesugihan untuk nutupi ritual itu. Jadi kita pegang ujung jarik, membentuk penutup segi empat. nanti setelah selesai ritual kami dibayar 250 - 500 rupiah per anak."


Waduh, batin saya, itu anak-anak yang pegang jarik apa ya nggak sesekali nglirik.


Tapi itu sudah berlalu, sebab oleh pemerintah daerah, daerah tersebut dikembangkan menjadi wisata ziarah yang lebih sehat. 


Akan tetapi yang patut diingat, ritus tantra kiri ini ternyata pada beberapa kalangan sangat mengakar. Sehingga meskipun agama sudah beralih, tetapi spiritnya masih menancap pada yang meyakininya. 


Perjalanan makna ma lima dari ritus tantra kiri menjadi larangan akan menjalankan dosa-dosa besar itu tentu menyimpan perjalanan panjang dan juga mencerminkan betapa jeniusnya para wali dalam mengislamkan tanah Jawa.











Post a Comment

0 Comments