Kehormatan guru pengajar

 STOP MENCOBA JADI "BESTIE" SISWA



Kasus jambi pengeroyokan Pak Agus.., guru SMK di Jambi.., oleh siswanya sendiri benar-benar menampar wajah pendidikan. Nuansa marah bercampur Sedih? Tentu.


Telaah  kejadian dengan kepala dingin. Ada sisi yang sering luput dibicarakan dalam kondisi pengajaran: Bahaya laten ketika guru kehilangan "Jarak Profesional" dengan siswa.


Banyak guru zaman now, terutama guru muda, terjebak dalam ambisi menjadi "Guru Favorit" atau "Guru Asik". Kita berusaha masuk ke dunia mereka, tertawa bersama, bahkan memosisikan diri seperti teman sebaya alias bestie.


Niatnya baik: membangun kedekatan emosional. Tapi, kasus Jambi dan banyak kasus lainnya mengajarkan bahwa kedekatan tanpa batasan adalah bom waktu.


Mengapa guru TIDAK BOLEH terlalu dekat (dalam artian friendship) dengan siswa?


1️⃣.Kedekatan yang Kebablasan Membunuh Rasa Segan.

 Saat siswa menganggap guru sebagai "teman", maka "tembok" penghormatan itu runtuh. Karena perlu diingat bahwa rumusnya : Siswa tidak akan segan pada temannya. Ketika Anda mencoba menegur mereka saat mereka salah, mereka tidak akan mendengarnya sebagai teguran otoritas, melainkan sebagai pengkhianatan teman. "Ah, Bapak kok baperan? Biasanya juga bercanda." — Kalimat ini adalah tanda awal wibawa amanah guru sudah hilang.


2️⃣.Hierarki Itu Perlu untuk Disiplin.

Pendidikan bukan hanya soal transfer ilmu, tapi transfer adab. 

Dalam adab, ada hierarki: Yang Muda menghormati Yang Tua, Murid menghormati Guru. Kondisi mensejajarkan guru dekat dengan siswa dengan dalih "demokrasi kelas" sangat perlu tetapi Dimata siswa remaja yang emosinya belum stabil perlu sangat dijaga. Jika siswa belum matang mentalnya kemudian merasa setara, bahkan merasa berhak melawan guru secara fisik muncul ego terusik diatur. Disinilah muncul musibah amanah mendidik hilang. Maka kedekatan guru sangat diperlukan tetap dalam komposisi yang tepat.


3️⃣.Guru itu Mentor, Bukan Teman Nongkrong.

Amanah guru adalah membimbing, bukan sekadar bonding. Sehingga harus menjadi figur guru yang pantas ditauladani juga dihormati dan ditakuti (dalam artian positif/segan), bukan figur yang bisa mereka tepuk pundaknya sembarangan. Siswa butuh sosok pemimpin di kelas, bukan tambahan teman bermain. Teman main mereka sudah banyak di kantin, mereka butuh orang dewasa yang bisa berkata "Tidak" dan "Jangan" dengan tegas.


4️⃣.Ramah Boleh, Murahan Jangan.

Menjadi guru yang hangat (warm) itu wajib. Tapi menjadi guru yang permissive (serba membolehkan demi disukai) itu fatal. Pertahankan "Ruang Profesional". Sayangi mereka seperti anak didik, tapi jangan biarkan mereka masuk ke ranah pribadi terlalu dalam hingga mereka lupa bahwa Anda adalah orang tua di sekolah.


➡️Kesimpulan: Tragedi Pak Agus di Jambi adalah alarm keras. Wahai rekan sejawat, berhentilah terobsesi disukai siswa. Mulailah fokus untuk disegani. Lebih baik dianggap "kaku" tapi selamat dan dihormati, daripada dianggap "asik" tapi berakhir diinjak-injak harga dirinya (bahkan fisiknya).


Jadilah Guru yang Ramah, tapi Tak Terjamah.

Post a Comment

0 Comments